Selasa, 18 Agustus 2009

ring back tone

MUSIK sudah menjadi bagian dari bisnis operator. Sudah beberapa tahun terakhir operator mencicipi nikmatnya nada tunggu pribadi yang beken dengan sebutan ring back tone (RBT).
Menurut para operator, kiprah RBT cukup besar ke pundi-pundi mereka. Naga-naganya bisnis RBT makin membesar.

Apalagi para pemusik, terutama pendatang baru, lebih suka menggunakan RBT sebagai ajang promosi ketimbang promosi atau “ngamen” ke luar kota. “Setiap bulan kami bisa meraup sekitar Rp 18 miliar - Rp 20 miliar dari biaya langganan RBT,” ujar I Made Harta Wijaya, General Manager Layanan Nilai Tambah dan Pemasaran Excelcomindo Pratama.

Menurutnya, duit sejumlah itu memberikan kontribusi hingga 26% dari total pendapatan value added service (VAS). Kalau dihitung dari total pendapatan XL, bisnis RBT menyumbangkan sebesar 6%. Hingga akhir tahun lalu, XL memiliki 4 juta pelanggan RBT. Seiring dengan target pertumbuhan pelanggan dari 26 juta menjadi 30 juta sepanjang tahun ini, diharapkan pengguna RBT juga ikut meningkat.

Operator “3″ juga mengakui sumbangsih RBT lumayan gede. “Kebanyakan download lagu lokal. Dan RBT ini merupakan penyumbang terbesar dari segi konten,” ujar General Manager Layanan Nilai Tambah “3″ Patricia Tedjasendjaja. Sayang, ia enggan menyebutkan berapa angka persisnya.

Indosat tak mau kalah. Dengan biaya langganan hanya Rp 5.500 per bulan, kontribusi RBT di layanan nilai tambah mereka mencapai porsi 35%. Sedangkan total donasi bisnis layanan bernilai tambah terhadap total pendapatan Indosat sendiri mencapai 30%.

Makanya, operator seluler terbesar kedua itu sangat rajin mengutak-atik sekitar 20.000 - 30.000 koleksi lagu yang ada di konten musiknya. Indosat yakin, kesadaran masyarakat untuk menggunakan musik orisinal sudah mulai tumbuh. “Apalagi kalau musik bajakan tak mewabah, layanan ini pasti akan tumbuh,” tandas Teguh Prasetya, Kepala Grup Brand Marketing Indosat.

Telkomsel juga sangat paham bisnis RBT sangat menggiurkan. Dari 60 jutaan pelanggan, sebanyak 6 juta orang atau 10% rutin memanfaatkan layanan RBT yang di Telkomsel disebut Nada Sambung Pribadi (NSP). Sepanjang tahun ini, Telkomsel menargetkan pertumbuhan menjadi 17 juta pelanggan.

Di operator patungan SingTel dan PT Telkom itu, pelanggan yang paling banyak menggunakan layanan ini adalah pemilik kartu simPATI. “Jumlah pelanggannya lebih besar dari pelanggan RBT kartu As dan Halo,” ujar Henri Mulya Sjam, Vice President Product and Mobile Data Service Telkomsel.

Produsen juga melirik bisnis RBT

Yang jelas, bisnis RPT tak milik operator. Apple misalnya. Untuk menggarap bisnis ini, mereka meluncurkan toko musik digital iTunes Store pada tahun 2003. Kini pengguna iPhone bisa mengunduh lagu langsung lewat iTunes.

Vendor lain tak mau kalah, pada Oktober 2008 Nokia meluncurkan Nokia Music Store (NMS). Melalui layanan ini pelanggan dapat men-donwload musik ke komputer dan maupun telepon seluler mereka. Setelah berlangganan selama setahun, musik full track jadi milik pelanggan.

Sementara Sony Ericsson memiliki PlayNow. Di PlayNow, setelah berlangganan enam bulan, pengguna bebas men-download sebanyak-banyaknya lagu di server Sony Ericsson. Di luar internet, Sony Ericsson Indonesia menggelar PlayNow Kios. “Bila pelanggan ingin lagu-lagu, games terkini, dan bahkan konten film yang disukai bisa mendapatkannya di PlayNow Kios, jadi sifatnya ritel,” kata Hanny Sanjaya, Manager Product Group Marketing Sony Ericsson.

Untuk memiliki sebuah full track lagu, pelanggan harus membayar Rp 8.000. Sedangkan untuk sebuah album kompilasi berisi 50 lagu dengan tema tertentu atau penyanyi tertentu, biayanya Rp 30.000. Adapun harga album lagu pilihan berisi 15 hingga 20 lagu Rp 60.000. Pada kuartal ketiga 2009 mendatang, Sony Ericson akan menggelar Play-Now Arena. Di sini pelanggan bisa mendapatkan fitur yang sama seperti yang ada di Play Now Kios tapi dengan pilihan yang semakin beragam.

Banyak tantangan

Demi mensukseskan program tersebut, Sony Ericson telah menjalin kerjasama dengan beberapa operator. Di antaranya Excelcomindo Pratama dan Indosat.

Made mengakui, pihaknya tengah merintis kerjasama dengan Sony Ericson untuk mengembangkan bisnis full track music. “Kami memang ada rencana bekerjasama dengan vendor dan label untuk menggarap konten musik, tapi belum bisa dipaparkan kerjasamanya,” tutur Made.

Teguh juga mengakui kalau belakangan ada pembicaran soal pengembangan konten full track music. Dari pembicaraan tersebut Sony Ericsson berkeinginan agar Indosat membuat biaya trafik GPRS. Jadi, Indosat akan mendapatkan keuntungan dari trafik dan pemakaian pelanggan. “Tapi belum ada kata putus dari pembicaraan tersebut,” kata Teguh.

Sedangkan Three sudah sejak tahun 2007 berjualan lagu secara utuh. Konsepnya full track untuk ponsel dan buat PC seharga Rp 9.000 per atau sekaligus keduanya seharga Rp 10.000 per lagu. “Lebih murah ketimbang membeli satu lagu di i-Tunes yang harganya mencapai US$ 0,99,” kata Patricia berpromosi. Para pengakses full track song “3″ bisa mengkopi lagu tersebut ke CD sebanyak tiga kali.

Tapi Patricia mengakui bahwa bisnis full track music di Indonesia rada berat berjalan. “Lihat saja orang bisa beli MP3 bajakan seharga Rp 10.000,” keluhnya. Sudah begitu, fitur tersebut harus didukung layanan 3G. Wah, Anda tahu sendirilah bagaimana kualitas layanan 3G kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar